Selasa, 26 April 2016

[REVIEW] Glamping Hore at Batu Tapak, Cidahu-Sukabumi

Tulisan saya kali ini menceritakan pengalaman pertama saya mencicipi Glamping alias glamorous camping bersama suami dan anak saya. Baru pertama kali juga, saya mengi-iyakan ajakan trip dengan sedikit pertimbangan, pokoknya “yes” aja dulu deh, hehe. H-2 minggu saya mulai menyiapkan keperluan Arkan, mulai dari makanan, baju, pampers, jaket, dsb. Kemudian, saya juga blog walking ke blog-blog orang yang pernah merasakan glamping di Batu Tapak. Setelah membaca sana-sini, saya semakin yakin kalau tempat yang akan saya tuju memang baby friendly. Nah, soal tempat sudah tidak ada masalah, yang masih menjadi masalah adalah waktu perjalanan. Saya lihat di itinerary, lama perjalanan Bogor-Cidahu adalah sekitar 3 jam, berarti saya harus men-set Arkan selama 3 jam itu tidak bosan dan rungsing. Usia Arkan tuh memang masih bosanan terhadap sesuatu. Jadi, jalan paling aman ya saya harus membuat dia tidur selama berada di mobil.

Perjalanan kami dimulai dari Depok pukul 10.30 wib menuju Cawang. Kami menggunakan Commuterline untuk menghemat waktu. Sampai di Cawang sekitar pukul 11.30 wib, kami janjian dengan Chandra menuju Bogor, tapi sebelumnya mampir dulu ke Citereup untuk menjemput teman kami satu lagi. Selama perjalanan di kereta dan sampai Citereup, Arkan tidur pulas. Aman. Setelah itu, kami berhenti dulu di rest area Sentul karena tempat itu dijadikan meeting point. Kami makan siang dulu di sana sembari menunggu beberapa mobil lagi datang. Biasa deh, Arkan tuh susah banget makan kalau keadaan sekitar ramai, dia lebih sibuk memperhatikan sekitar. Akhirnya, saya mampir ke indomaret membeli anggur untuk cemilan di mobil. Ok, acara makan siang, solat, dan belanja bekal makanan selesai, saatnya kami menuju Bogor dan lanjut Cidahu. 10 menit pertama, Arkan masih sibuk ngunyah anggur, gak lama kemudian dia nangis diikuti wajah pucat dan tangan dingin. Fix, ini anak pasti mual dan mau muntah. Gak enak dong saya kalau si Arkan muntah di mobil orang, akhirnya saya siapkan plastik dan saya usap2 punggungnya, tidak berhasil karena dia terus merengek minta susu. Yoweslah, saya susui sampai akhirnya tertidur pulas.
          
Nah, ada cerita lucu di sini, mobil yg saya tumpangi (mobil om Vicky) kan terpisah dari dua mobil lain. Jadi, kami beriringan ber-4, terus pisah jadi 2-2 gitu, mobil om Vicky beriringan dengan Mas Indra. Di antara kami tidak ada yang tau persis letak Batu Tapak itu di mana, ya google maps lah jawabannya. Bener sih, google maps mencara jalan yang tidak macet, tapi kami dibawa ke jalan-jalan pedesaan yg hanya muat 1 mobil, kanan-kiri rumah yang penghuninya tuh heran melihat mobil kami lewat, seakan wajah mereka mengatakan, “Ini mobil nyasar pasti nih,” semakin jauh, semakin curiga kok dari tadi jalannya makin sempit, ternyata memang benar, jalan yang kami lalui bukan jalanan utama. Saya akhirnya menelepon Mela, yang ada di mobil Chandra, dia bilang kalau dia lagi kena macet di Lido-Sukabumi, sedangkan saya sedang berusaha melewati hutan bambu dan jalanan bebatuan, hahha. Serius sih ini unforgettable moment banget, kalau inget moment ini suka ketawa-ketawa sendiri.


Ok well, dengan kekuatan bulan akhirnya tim google maps sampai TKP terlebih dahulu. Udara sejuk dan pohon pinus menyambut kedatangan kami, diikuti oleh harumnya mie instan yang berasal dari warkop depan pas pintu masuk yang berhasil membuat beberapa di antara kami tergoda dan tidak tahan untuk tidak mencobanya, hehe. Setelah ‘gogoleran’ sejenak, kami masuk ke area camping ground dan melihat keadaan sekitar, kebetulan di hari yang sama sedang ada gathering. Jadi, suasananya ramai dan banyak anak-anak.


Sore itu, sekitar pukul 17.00 wib, kami santai-santai sejenak menghilangkan rasa lelah sambil menunggu senja. Ternyata, senja tampak malu-malu menampakkan diri, mungkin karena mendung juga, jadi semburatnya tidak terlalu terlihat. Hari pun gelap, kami bergegas melaksanakan solat magrib dan siap-siap makan malam. Saya segera mengganti baju Arkan dan mempersiapkan makan malamnya. Hmmm, beberapa jenis makanan yg wajib saya bawa ketika bepergian adalah abon, pudding, kacang, dan nori. Ya, begitulah kalau punya anak yang pemilih kalau makan, jadi kudu mesti dipersiapkan dari rumah. Menu makan  malam kami adalah ayam bakar, hmmmm, yummy. Jadi, ayamnya tuh sudah ½ matang, nah biar kerasa nuansa kempingnya, jadi kami bakar lagi sebentar, hehe. Makan malam di depan tenda dengan kawan-kawan, keluarga kecil, dan krucils. Malam minggu waktu itu terasa begitu syahdu, ditambah lagi Arkan doyan banget ayam bakarnya, duhh, Bunda happy berat.

Setelah makan malam usai, kami mulai menyalakan api unggun, kurang sedap apalagi coba? The krucils antusias sekali ketika melihat api menyala, Lili dan Juna (anak-anak Mas Indra) langsung bergabung dengan yang lain di dekat api unggun, Arkan dan Kaira sih masih asik aja main lego di depan tenda. Setelah bosan, saya ajak Arkan bergabung dengan yang lain. Arkan baru pertama kali melihat api unggun, dia tanya, “Itu apa? Itu apa?” saya jawab, “Itu namanya api unggun, Kan.” Trus Om Dede bantu jawab, “Camp fire, Kan.” Diulang-ulang aja terus itu camp fire sepanjang malam, hehe. Sekitar pukul 21.30, Arkan sudah ngucek-ngucek mata dan mulai merengek, ngantuk doi. Saya pun pamit ke tenda untuk menyusui Arkan. Arkan belum tidur, eh Bundanya udah tidur duluan, haha. 
Jam sebelasan saya terbangun, mendengar suara teman-teman yang lain masih asik bertukar cerita di depan api unggun. Saya pun langsung bergabung. Indah sekali rasanya, anak sudah tidur, Bunda dan Ayah ngumpul bareng teman-teman sambil tawa bertukar cerita. Jujur ya, rindu rasa seperti ini, bercerita, lepas tawa, melupakan sejenak urusan rumah tangga. Perlu loh, sekali-sekali. Ya, tapi, umur memang tidak menipu, sekitar pukul 01 dini hari, saya menyerah. Saya tidak kuat terkena angina malam, akhirnya saya bergegas pamit untuk tidur. Malam minggu yang indah, ditutup dengan tarikan sleting tenda. Selamat tidur.

Minggu pagi, sekitar pukul 5.30, saya pun bangun, solat subuh dan duduk-duduk di depan tenda menikmati udara pagi yang segar. Kabut tipis menyelimuti gunung dan bukit-bukit di sekitar area perkemahan. Tenang sekali. Satu per satu teman-teman mulai bangun, ada yang lanjut tidur lagi selepas solat subuh, ada yang katanya mau lari pagi, tapi gk kuat menahan pelukan selimut, hehe. Saya memilih membuat teh manis, kurang pisang goring aja sih, hahaha. Schedule kami pagi itu adalah main-main ke air terjun. Wah, ngenalin Arkan ke air terjun nih, asik.

Pukul 09.00 kami mulai perjalanan menuju air terjun. Nah, jadi di sekitar area perkemahan ini terdapat 2 air terjun. Pertama air terjun kecil, jaraknya 15 menit dari tenda, yang kedua air terjuan asli yang tinggi, tapi jaraknya 45 menit. Berhubung bawa krucils, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke air terjun yang kecil. Lumayan lah buat celup-celup kaki. Airnya duinginnnn bener, tapi Kaira kuat banget loh nyemplung, Arkan sih cukup sampe nyelemin kaki sedengkul aja, dia rada takut air, gak tau kenapa? Baru sekitar 15 menit di sana, hujan pun turun. Saya memutuskan untuk naik dan mengganti baju Arkan, jgn sampai dia terkena hujan. Ada kejadian tidak mengenakan di sini, saya dan Arkan terpeleset dan jatuh di atas batu. Alhasil kelingking saya pun terkilir, suakittt banget. Ya, saran saya hati-hati saja pas jalan di atas batu yg licin ya.

Yeayyy, weekend kami selesai juga. Senang bisa mengajak Arkan traveling bareng om dan tante Reeyan Travelers. Semoga kedepannya bisa bikin trip lagi bareng the krucils. Pengen banget ajak Arkan ke pulau, tapi sepertinya harus menunggu sebentar lagi, minimal pas dia 3 tahun lah yah. Tunggu ya, Nak, nanti kamu akan lihat langsung Nemo di laut :D 













Minggu, 06 Maret 2016

[REVIEW] The Intern “Experience Never Gets Old”





Woalaaaaa, akhirnya menyempatkan diri menulis di blog lagi. Kali ini saya ingin mereview film “The Intern”. Film ini memang sudah cukup lama release, tapi saya baru sempat nonton dan ternyata bagus. Pertama, dari ide cerita yang menurut saya oke. Mempekerjakan orang-orang dengan usia nonproduktif sebagai “anak magang” di sebuah perusahaan e-commerce  dengan tujuan menyerap pengalaman dari “para orang tua” ini. Bayangkan kalau ide ini bisa diterapkan di Indonesia! Loh, why not? Orang-orang berusia nonproduktif tidak semuanya senang berada di rumah, bermain dengan cucu, atau berkebun. Mereka yang sudah terbiasa bekerja akan stress ketika sudah tidak lagi bekerja. Ini mengubah pandangan saya tentang mereka dengan usia nonproduktif, selama dia mencintai apa yang dia kerjakan, bahagia pasti menyertai. Toh, itu sebetulnya inti kehidupan. Hahaha
          Sama halnya dengan yang dirasakan oleh Ben Whittaker (Robert De Niro), seorang pensiunan perusahaan percetakan buku telepon, yang bosan menjalani rutinitas pensiunnya. Ia mencoba melamar ke perusahaan yang membuka program “Senior Intern”, pegawai magang untuk orang-orang nonproduktif. Bergabunglah Ben di perusahaan fashion online bernama About The Fit yang dipimpin oleh Jules Ostin (Anne Hathaway). Jules, seorang CEO dengan usia produktif harus bertemu dengan pegawai magang dengan usia nonproduktif. Nah, di situ sebetulnya yang menarik.
          Konflik yang disugukan dalam film ini memang sudah dapat saya tebak. Perbedaan usia, cara bekerja, dan kecanggihan teknologi, ditampilkan lewat karakter Ben dan Jules. Tidak dipungkiri, hal itulah yang banyak terjadi di lingkungan kerja sekarang ini. Satu lagi tentang konflik rumah tangga Jules yang tidak mungkin tidak terganggu. Buat saya yang sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak, menjadi pekerja memang susah-susah gampang dijalankan. Namun, sebetulnya sih bisa berjalan beriringan, asal didukung oleh partner in life, alias suami. Saya banyak belajar dari film ini, terlebih pada cerita rumah tangga Jules. Suami Jules rela menjadi bapak rumah tangga demi kelancaran karier Jules dan karena cintanya yang besar pada Jules, mereka bisa menjalani semuanya dengan baik.



          Sempat menitikkan air mata ketika menonton beberapa adegan dalam film ini (duuuh, saya tuh memang teramat sentimental orangnya). Biasa deh, saya berimajinasi menjadi tokoh Jules dan terbawa adegan demi adegan, hahaha. Menurut saya, film ini wajib ditonton. Ceritanya “tidak berat” tetapi sarat pesan dan makna. Apalagi untuk kalian, working mom dengan ritme kerja yang tinggi, perlu juga merefleksikan diri J

Selasa, 21 Juli 2015

[Review] Ngabuburit di Perpustakaan Pemda DKI Jakarta, TIM-Cikini


#Latepost
Saya langsung kasih tagar latepost karena memang sudah lumayan lama sih mampir ke tempat ini. Waktu itu, saya dan Arkan ngabuburit di Perpustakaan Pemda DKI Jakarta di Cikini, tepatnya di Taman Ismail Marjuki (TIM). Tidak sulit menemukan gedung perpustakaan ini karena posisinya sejajar dengan Planetarium. Gedungnya berada paling pojok sebelah kanan, kalau dari pintu masuk. Tempat ini lagi happening banget dibicarakan Mahmud di media sosial karena menyugukan konsep yang menarik di tengah Kota Jakarta.

Pagi itu, saya sebetulnya agak ragu mengajak Arkan pergi, tapi dia kelihatan sudah bosan bermain di rumah. Dipikir-pikir selama bulan puasa, saya dan Ayahnya tidak pernah mengajaknya bermain di luar. Saya pribadi memang malas pergi ke mall di bulan ramadan. Jadi, hari itu, saya nekat aja ajak Arkan jalan-jalan naik Commuter Line. Perjalanan kami mulai dari stasiun Depok baru menuju Gondangdia. Loh, kenapa bukan Cikini? Ya karena saya harus mampir dulu ke kantor Ayahnya di depan Monas untuk mengambil fotokopian KTP saya yang tertinggal (hiks). Dari Monas, langsung meluncur ke TIM. Arkan yang sudah tidur sejak di CL, terbangun ketika kami sampai di depan perpustakaan. 

Di pintu masuk, para pengunjung wajib mengisi buku tamu terlebih dahulu, baru lanjut ke bagian penitipan tas di sebelah kanan. Jangan lupa membawa KTP untuk ditukar dengan kunci loker. KTP itu fungsinya sebagai jaminan dari para pengunjung. Nah, nanti di tempat pengambilan kunci, para pengunjung akan dipinjamkan tas plastik transparan untuk menaruh barang-barang berharga yang dibolehkan dibawa ke area perpustakaan. Kemarin saya menaruh dompet, hp, dan kamera di dalam tas. Kalau untuk laptop, saya kurang tahu karena di area anak-anak, saya tidak melihat ada pengunjung yang membawa laptop. Saya pun lupa menanyakan pada petugas sangking riweuh gendong-gendong bocah, hehehe. Setelah dapat kunci loker, saya segera memasukkan tas ke dalamnya. 

Oke, setelah beres di lantai dasar, kami masuk lift menuju lantai 2. "Tingnong," pintu lift terbuka.... dan pemandangan warna-warni langsung menyambut kami. Duh, sayang sekali saya benar-benar tidak sempat mengabadikan setiap sudut di gedung ini karena Arkan yang baru bangun tidur tidak mau jalan sendiri, hiks. Jadi, saya deskripsikan saja ya. Di lantai 2 ada kursi dan meja kecil warna-waeni untuk anak-anak berusia di bawah 12 tahun. Sebelah kiri lift ada rak buku-buku, dan tepat di depan lift ada semacam panggung kecil yang bisa diduduki oleh anak-anak. Jalan ke kanan lift ada sekat bermain balok, puzzle, lego, dan macam-macam mainan edukatif lainnya. Di ujung kanan lift, ada sebuah ruangan yang luaaaaassss banget, yang isinya semacam playground gitu. Ini nih yang sering saya lihat di instagram, hehe. Langsung aja deh saya ajak Arkan masuk. Jangan lupa ya menggunakan kaos kaki untuk anak dan pengasuhnya agar terhindar dari benda-benda tajam yang mungkin ada di lantai. Oh, ya, ruangan ini hanya boleh dimasuki oleh anak di bawah 5 tahun. Peraturan ini ketat loh! Sewaktu saya ke sana, ada anak laki-laki yang tingginya melebihi anak 5 tahun, petugas yang melihat langsung menanyakan anak tersebut dan memintanya keluar (ternyata anak itu sudah 7 tahun). Sayang banget sih di ruangan sebesar ini tidak ada ac-nya, alhasil Arkan dan saya harus bercucuran keringat deh. Udah gitu, Arkan salah kostum lagi. Harusnya pakai kaos pendek dan celana pendek aja :(


suasana di ruang bermain

salah satu mainan yang tersedia

Arkan langsung nemplok di mainan ini, hehe.

Arkan belum berani naik ini nih, padahal seru kayaknya :D
salah satu rak di pojok ruangan

Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya bisa naik ini. haha


mobil-mobilan kayu

"naik sapi! mowww"

Arkan mau ikutan main sama kakak-kakak

Akhirnya ada yang mau main sama dia. hahaha

di dekat kursi ada colokan juga untuk charge mainan


Buat para orang tua dan pengasuh, tidak perlu khawatir karena disediakan kursi untuk mengawasi anak-anak yang sedang bermain. Sayangnya, para pengunjung tidak diizinkan membawa makanan dan minuman ke dalam arena bermain atau ke lantai 1. Sebetulnya agak repot juga sih karena namanya anak-anak ya, abis lari-larian, main ini-itu, lalu kemudian haus, repot juga kalau harus turun lagi ke lantai dasar hanya sekadar mengambil minum. Belum lagi kalau si anak sudah terlanjur Pewe. Sebetulnya baik sih, tidak boleh membawa makanan dan minuman untuk menjaga kebersihan di arena bermain, hanya saja harusnya disediakan ruang makan atau minum di luar ruangan, namun masih di lantai yang sama. Jadi, tidak perlu lagi harus turun ke bawah untuk mengambil minuman. Atau sekalian saja dibuat cafetaria di lantai atas. Jadi, para orang tua atau pengasuh bisa nunggu sambil ngemil-ngemil cantik. hehehe. Kan rencananya, perpustakaan ini akan buka di hari Sabtu dan Minggu.
ini area di depan ruang bermain

Secara keseluruhan, perpustakaan ini sangat bermanfaat bagi saya sebagai orang tua karena mengajak anak bermain tidak melulu harus ke mall, yang ada anak jadi ketagihan ke mall. Si Arkan aja tidak terlalu sering saya ajak ke mall sudah tahu mall. Kalau saya tanya, "Arkan abis dari mana?" dia jawabnya, "Emol" hadeuhhh. Mengajak ke perpustakaan seperti ini harus sering-sering saya lakukan, pertama karena HERATIS, haha, kedua karena saya pribadi suka sekali "mendekam" di perpustakaan. Ingin sih menularkan Arkan untuk betah di perpustakaan (misi terselubung sang Bunda). Nanti kalau sudah buka setiap hari, saya berencana mengajak Ayah, Akung, sama Yangti-nya ke sini ah, biar sekalian ramai-ramai, Arkan pasti makin betah di sini.

Senin, 20 Juli 2015

[Review] Kuntum Farmfield, Bogor



"Eid Mubarak 1436 H everyone."

Biasanya, setelah merayakan lebaran pertama dan kedua, saya dan keluarga menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat wisata di sekitar Jakarta. Hal ini kami lakukan tiap tahun untuk menghabiskan sisa libur lebaran, sekaligus memperbanyak referensi tempat wisata di Jakarta, dsk. Nah, kali ini kami pergi ke daerah Bogor, tepatnya di Jalan Raya Tajur, No. 291, namanya Kuntum Farmfield. Awalnya, saya melihat beberapa postingan Mahmud (Mamah-Mamah Muda) yang mengajak anak mereka menghabiskan waktu di tempat ini. Saya pun tertarik mengajak Arkan mengunjungi tempat ini. Setelah seluncur blog sana-sini, dan bertanya ke teman yang pernah berkunjung ke tempat ini, kami pun akhirnya sampai di sini. 

Lokasi tempat ini tidak sulit kok, setelah keluar tol Bogor, ambil kiri dan ikuti jalan sampai Jalan Raya Tajur. Nanti ketemu toko tas di kiri-kanannya, lurus terus aja sampai ketemu plang besar berwarna orange bergambar bunga bertuliskan "Kuntum", langsung belok kiri. Sampai deh

Tulisan ini ada di pintu masuk

Setelah masuk, kami menuju parkiran. Berhubung sudah masuk waktu makan siang, saya pun celingak-celinguk mencari restoran atau tempat makan di area Kuntum Farmfield (KF). Ternyata tidak susah menemukannya karena persis di depan parkiran, ada sebuah restoran. Harga makanannya menurut saya masih terjangkau, tidak terlalu mahal, standar foodcourt. Buat kamu yang kebetulan tidak membawa bekal, boleh deh mampir ke resto ini, sebelum atau sesudah bermain di KF. Buat yang membawa bekal, silakan pilih meja dan makan bekal bawaan kamu.

Suasana di tempat pembelian tiket

Oke, setelah kenyang dan solat zuhur, kami bergegas menuju pintu masuk KF. Tidak lupa membeli tiket masuk seharga Rp30.000/ orang. Di lobi KF, mata kami disugukan dengan berbagai jenis tanaman dan kerajinan tangan yang bisa dibeli oleh pengunjung. Buat kamu pecinta tanaman, bisa lihat-lihat di sini karena harga tanamannya tidak mahal. 

suasana di lobi KF

Kolam ikan sebelum lobi KF

Jembatan menuju gerbang pengecekan tiket

asik-asik digigit-gigit ikan. hahaha

Setelah kami melewati lobi, kami disambut oleh beberapa jenis ikan yang terdapat di kolam ikan. Ada lele, patin, dan beberapa jenis ikan tawar yang saya lupa namanya. hehe. Di tempat pengecekan tiket, kami dipersilakan memilih caping (topi petani) untuk dipakai selama di area KF. Sebetulnya tidak wajib sih, caping ini dipinjamkan kepada pengunjung yang tidak membawa topi atau payung. Tujuannya agar kepala tidak kepanasan. Ruang ini pun digunakan sebagai tempat menimbang jenis sayuran yang kita ambil di kebun belakang.

Arkan senang tiada tara pakai caping ini. Sampai gk mau dilepas

Mendadak jadi Pak Tani :D

Wefieeee

Area KF dibagi atas dua bagian, pertama peternakan, kedua perkebunan. Setelah pintu masuk, kami melihat beberapa tanaman salada yang hijau dan segar-segar sekali. Rasanya pengen bawa pulang semua, hehe. Kemudian, beberapa meter setelahnya, mulailah area peternakan. Kandang pertama diisi oleh kambing. Jangan tanya baunya, kebayang deh kalau kambing gimana baunya, hehehe. Asiknya di sini, kita dipersilakan memberi rumput atau susu ke kambing. Tenang, kita tidak perlu repot membawa rumput atau susu dari rumah karena di sini menjual rumput dan susu untuk kambing, kelinci, dan sapi. Harga rumput per bakul Rp5000, dan susu pun Rp5.000. 

kandang kambing

kandang kelinci

Arkan pertama kali pegang kelinci

Kasih "wotel" ke kelinci

Arkan senang sekali melihat banyak kambing, dia sampai ketawa ngakak pas denger suara kambing, "Mbeee, mbeee" selama ini dia hanya lihat di flash card binatangnya. Berlanjut ke kandang selanjutnya, yaitu kandang kelinci. Di sini, pengunjung dibolehkan masuk, sekadar mengelus atau memberi makan. Pas kemarin Arkan "nyemplung" ke kandang kelinci, para kelinci lagi santai-santai kekenyangan. Jadi, Arkan harus nyari, mana kelinci yang masih kelaperan. Seperti yang terekam dalam foto di atas, kelinci putih itu sudah mulai kekenyangan, tapi Arkan masih kekeuh mau masukin wortel yang dia bawa. hehe.

halo sapi

"Arkan, itu sapi tuh, gede. Kalo sapi suaranya gimana, Kan?" tanya Bunda.
"Mowwwwww" jawab Arkan sambil lari-lari kecil menuju sapi.
Sapi yang Arkan kasih makan ini sesungguhnya besar sekali. Kayaknya binatang di sini pada kelaperan deh. Setiap saya mendekat, mata mereka kayak mau nerkam aja. Pas dikasih rumput, langsung lep, lep (kayak iklan sosis, hahaha). Saya sebagai juru foto memilih menjaga jarak dari kandang karena takut lihat sapi segede gitu. Arkan ditemani Akungnya, santai aja kasih rumput. Alhamdulillah Arkan tidak menunjukkan raut wajah ketakutan ketika melihat kambing, kelinci, dan sapi. Berbanding terbalik ketika saya mengajaknya berenang. Deuhhh, sampai nangis sesenggukan pas diceburin ke air :( lain kali saya coba lagi deh ajak dia berenang.

anak-anak asik main air, para orang tua mengawasi dari bale

Ayah Arkan sedang memberi makan anak-anak sapi

Kandang bebek, "kwek-kwek."

angsanya putih bersih

Pas dikasih tahu ada bebek, Arkan lari menghampiri kandang bebek. Unggas di sini, rata-rata sudah dikenal Arkan lewat kartu binatang miliknya. Jadi, ke sini sekalian nyocokin dengan bentuk aslinya. hehe. 
pose dulu dong di depan angsa

foto dulu di jembatan

Fiuhhh, sebetulnya masih ada beberapa unggas, seperti ayam dan burung, cuma saya udah gak tahan dengan bulu binatang. Hidung sudah gatal-gatal dan napas mulai sesak. Akhirnya saya putuskan untuk tidak maasuk ke kandang ayam dan burung. Saya langsung menuju kebun, Arkan ditemani Yangkungnya masuk lihat burung. Kata Akungnya, "Si Arkan manggil-manggil buyung, buyung mulu" yasudah deh, biar Arkan gak penasaran, mereka berdua lihat burung. 

yang sayur, yang sayur, yang sayur

pemandangan sekitar

Woalaaa, tanah ini berapa hekatare ya kira2? besar sekali. Agak ngos-ngosan loh bisa sampai ke lahan sayuran ini. Di sini ada bayam merah, salada, jagung, kangkung, kacang, ubi merah, ubi putih, lidah buaya, dan singkong (mungkin ada lagi karena saya tidak satu per satu memperhatikan) dan semuanya organik. Muka mama saya langsung berbinar-binar, tanpa ba-bi-bu, langsung dia nyamperin mang penjaga dan tanya, "Mang, yang siap petik yang mana?" gak lama langsung cabut bayam merah, cabut kangkung. hehe. 

anak ini ikut-ikutan cabut ubi

cabut terussss
menanam jagung di kebun kita :D


Salah satu spot favorit di tempat ini adalah arena berkuda. Anak-anak rela ngantre panjang demi muter-muter naik kuda. Pengen sih liat Arkan naik kuda, tapi kayaknya belum cukup besar deh. Soalnya naik kudanya tidak boleh didampingi keluarga, harus sendiri dan keluarga menunggu di tempat yang telah disediakan. Harga tiketnya gak sempet nanya juga, hehehe. Maaf.

disiram kakak-kakak ampe kuyup begini


Sayur-sayuran yang kami ambil tadi, dicuci dahulu sebelum ditimbang dan dibayar. Ternyata harga sayuran di sini terbilang murah. Sama sih kayak harga sayuran organik di mall. Awalnya, mama saya sudah khawatir harganya mahal karena pertama organik, kedua di tempat wisata. Eh, ternyata gak kok. Jadi, agak nyesel cuma "metik-metik cantik", hahaha.

Next time harus ke sini lagi, tapi kayaknya lebih seru kalau sama keluarga besar. Jadi, makin ramai. Yuk, yang belum tahu liburan atau menghabiskan weekend kamu ke mana, langsung ke sini aja.